Recent Updates RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • tigaputra 11:02 am on October 5, 2011 Permalink | Reply  

    Briptu Norman’s House [Souvenir from Gorontalo :D] 

    Trust me, This is original version! see tag in the corner :D

    Im sorry, if you expect that I will show you picture of Indonesia Famous Police-[Lipsync-Singer]-Dancer, Briptu Norman [Is he still police officer now?]. I cannot fulfilled your hope now. Perhaps, you are one of his fans and used to sing his hit: Chaiya-Chaiya. Just to be honest! :D

    “]

    Briptu Norman's House and his mother [sorry, you cannot see his mother clearly /or to small:)

    During doing jobs in Gorontalo, one of my boss went to the Briptu Norman’s House and take some pictures. He meet Briptu Norman’s mother and ask her permission to take a photos. Unfortunately, he didnt meet Norman. Very short meeting but productive. These are some souvenir that I can share for you all.  [I keep "Xtra Pia" -Gorontalo's popular cake with yummy chocolate!- just for me :D ].

    Jogjakarta, 4 October 2011

     
    • irniaryani 12:13 pm on October 12, 2011 Permalink | Reply

      hahah very nice and entertaining posting pug!!! next,,ditunggu foto rumah ayu ting ting :p

      wiwien apriliani

      • tigaputra 12:19 pm on October 12, 2011 Permalink | Reply

        hooo, pakek akun temen yho wien. omahe ayu ting-ting saja aku nggak paham dimana :D -mengko alamat palsu meneh :P -

  • tigaputra 1:58 pm on October 4, 2011 Permalink | Reply  

    Buku dari Pak Denny 

    Suatu saat saya yang akan kirim buku saya, Pak! :D

    dari boss-nya temen :)

    Berawal dari iseng-iseng berhadiah, ternyata berhadiah beneran. Ternyata facebook ada manfaatnya juga lho :P linknya bisa dilihat disini!

     Jogja, 23 September 2010

     
  • tigaputra 1:21 pm on September 29, 2011 Permalink | Reply  

    Tampilan Blog WordPress-nya jadi bagus. Jadi sayang untuk meninggalkan :D

     
  • tigaputra 7:02 pm on November 11, 2010 Permalink | Reply  

    Integrated School Feeding: Program Peningkatan Ketahanan Pangan Bangsa Berbasis Sekolah 

    Oleh: Novat Pugo Sambodo, Raditiyo Harya Pamungkas dan Cut Madinna Tiraya

    Abstraksi

    Makalah ini bertujuan untuk memberikan alternatif solusi bagi ketahanan pangan  yang berkelanjutan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka berupa buku bacaaan, jurnal dan berita.  Solusi yang ditawarkan adalah pengaplikasian program Integrated School Feeding dengan subjek anak-anak usia sekolah dasar melalui pemberian makanan gratis untuk menjamin ketercukupan gizi. Program ini juga dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman mengenai gizi dan upaya untuk menjadikan sektor pendidikan, lewat sekolah, sebagai sebuah basis ketahanan pangan. Perubahan pola pikir tentang sektor pertanian menjadi salah satu tujuan agar pada jangka panjang sektor pertanian semakin mendapat perhatian.

     

     

    Kata-kata kunci: ketahanan pangan, pendidikan, pola pikir, pertanian

     

    :: Yey! Piala pertamaku! makasih banyak buat Pam-Pam dan Dinda yang mau nemenin nulis ini. To be honest, mulai dari sini aku mulai semangat nulis lagi. Ya, semua berawal dari juara ke-2 pada  Lomba Karya Tulis Ilmiah Ketahanan Pangan FE Universitas Diponegoro bulan Juli 2008. Buat pam-pam kita besok joint paper tentang fiskal ya ^^V Sinau sik bener tentang ekonomi. Sekalian entar ajarin aku kalkulus dan integral hehe ::

     
  • tigaputra 6:57 pm on November 11, 2010 Permalink | Reply  

    Demokrasi Di Persimpangan Jalan: Apa Yang Bisa Kita Pelajari Dari Pemilu Di Tengah Krisis Ekonomi 2009? 

    oleh: Aditya Rangga Yogatama, Novat Pugo Sambodo dan Wulan Wiyat Wuri

    Ringkasan

    Pemilu 2009 yang masuk pada pemilu di era transisi mempunyai urgensi yang krusial. Mengapa? Pertama, masih tersimpan ketidakpuasan rakyat atas ketidaksempurnaan pemerintahan yang selama ini berjalan. .Kemiskinan masih menjadi permasalahan yang terbesar. Angka kemiskinan di Indonesia mencapai 39,30 juta jiwa, atau sekitar 17,75 % dari total penduduk Indonesia (Data Susenas 2006). jumlah pengangguran di Indonesia saat ini mencapai 9,43 juta orang. Masih diperkirakan, keduanya akan meningkat dengan sangat cepat mengingat keadaan perekonomian global yang tidak menentu. Kedua, krisis ekonomi global yang diperkirakan masih akan terus berlanjut semakin menambah ketidakpastian dalam perekonomian bangsa. Ketiga, Pemilu 2009 merupakan pemilu pertama yang diadakan setelah ditetapkannya Visi Indonesia pada tahun 2030. Pemilu 2009 merupakan awal dari 5 pemilu dalam upaya mewujudkan visi antara lain Pemilu 2009, 2014, 2019, 2024 dan 2029 dengan catatan semuanya berjalan lancar dan tidak ada perubahan kepemimpinan di tengah jalan. Jadi, keseriusan pembentukan negara dengan pemilu menjadi patokan awal mewujudkan visi, karena jika terlalu banyak goncangan politik dari pemilu ke pemilu maka sulit kiranya visi yang sangat sophisticated tersebut bisa tercapai.

    Paper ini menekankan pada bagaimana menjelaskan perbandingan kekurangan dan kelebihan pelaksanaan pemilu legislatif 2009 dalam konteks perekonomian. Kemudian mengidentifikasi sisi mana saja yang penting untuk diperhatikan terkait pemilu 2009 yang berpengaruh pada performa perekonomian Indonesia. Lalu penjelasan bagaimana penciptaan pemilu yang efektif dan efisien melalui kerangka kelembagaan.

    Ilmu ekonomi mencoba menganalisis fenomena politik kepada perekonomian.  Sejarah pemikiran ekonomi mencatat bahwa performa perekonomian tidak saja ditentukan dari variabel-variabel ekonomi an sich. Variabel politik turut menjadi determinan meskipun sulit untuk mengkuantitatifkannnya yang  kemudian melahirkan  cabang ilmu ekonomi politik. Salah satu kajian yang menarik untuk mengetahui performa dari sebuah kondisi politik dalam ilmu ekonomi adalah dengan pendekatan principal agent theory. Masalah ekonomi muncul ketika informasi yang ada terlalu sering berubah menyebabkan kecenderungan terjadinya ketidaksempurnaan informasi (asymmetric information). Sistem Pemilu membuka peluang adanya masalah principal agent tersebut.

    Demokrasi dan pemilu memang bukan penentu ekonomi suatu negara, tapi kondisi ekonomi dapat mempengaruhi keberlangsungan suatu demokrasi. Ketika performa dari perekonomian lesu, masyarakat semakin menuntut kepada pemerintah untuk perbaikan ekonomi. Apabila penghasilan per kapita rendah maka makin banyak masyarakat yg akan menuntut kepada pemerintah sehingga ketergantungan terhadap pemerintah meningkat.

    Penulisan ini menggunakan metode studi kepustakaan. Data yang digunakan menggunakan data sekunder. di mana data tersebut digunakan sebagai landasan dan premis-premis yang dibangun dalam menjawab kesimpulan dan saran. Data didapatkan dari berbagai macam sumber, seperti buku, jurnal, majalah, artikel yang didapatkan baik melalui media perpustakaan maupun internet. Setelah data yang didapatkan dirasa cukup, selanjutnya penulis melakukan seleksi sumber-sumber yang relevan dengan tema yang diangkat.

    Sebaliknya jika ditanyakan dampak pemilu pada perekonomian maka Pemilu 2009 bisa dijadikan sebagai contoh yang menarik karena dilakukan di saat krisis. Ada beberapa dampak langsung pemilu terhadap pembangunan ekonomi antara lain:   Pertama, kegiatan Pemilu 2009 akan mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 1,08%, sehingga proyeksi pertumbuhan tahun 2009 sebesar 4-5% tidaklah susah diraih. Kedua, pengeluaran pemilu sebesar Rp30 triliun akan membangkitkan dampak tidak langsung dalam perekonomian sebesar Rp28 triliun. Jadi total dampak langsung dan tidak langsung Pemilu 2009 adalah Rp 58 triliun.

    Dampak tidak langsung dihasilkan oleh multiplier effect kegiatan kampanye yang menggairahkan aktivitas ekonomi. Kegiatan percetakan kertas suara, spanduk, pamflet, dan bendera tidak hanya akan mendorong peningkatan aktivitas di sektor-sektor tersebut, tetapi juga meningkatkan aktivitas di sektor-sektor lain yang berkaitan (backward and forward linkage). Ketiga, sektor-sektor yang akan mengalami pertumbuhan tinggi adalah sektor telekomunikasi (7,7%), transportasi (5%), sektor industri percetakan atau kertas (9,4%), sektor industri pakaian jadi (3,4%), serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran (2%).

    Pertumbuhan yang lumayan tinggi di sektor industri pakaian jadi, percetakan atau kertas, dan sektor perdagangan-hotel-restoran diharapkan mampu menahan laju penurunan aktivitas sektor-sektor tersebut sebagai akibat krisis global. Keempat, dampak Pasca Pemilu 2009 terhadap perekonomian di Indonesia sangat bergantung pada alokasi dana kampanye. Kampanye melalui iklan televisi dan koran memiliki multiplier effect yang rendah terhadap perekonomian. Selain itu, manfaat ekonominya lebih banyak dinikmati oleh pengusaha-pengusaha media. Sedangkan model kampanye langsung turun ke bawah, seperti membagi-bagikan sembako, kaus, dan pengobatan gratis, menghasilkan multiplier effect yang tinggi terhadap perekonomian.

    Pertama, jika dilihat dari komposisi berdasarkan quick count tidak ada suara yang cukup kuat di parlemen atau dengan kata lain dominan. Kondisi tersebut implikasinya terjadi pada penentuan kebijakan pada level legislatif. Dan patut diingat adalah bahwa kemajemukan suara juga terjadi tidak pada DPR Pusat saja melainkan pada DPR daerah. Hal ini bisa menimbulkan konflik politik yang panjang jika tidak ditata kelola dengan rapih dan baik. Ada kekhawatiran bahwa proses politik yang berkepanjangan juga akan menghambat pembangunan ekonomi terkait dengan peraturan dan peraturan yang berkenaan dengan ekonomi, misalnya seretnya UU tentang perbankan syariah yang terus menggantung di masa periode 2004-2009.

    Kedua, kepercayaan masyarakat terhadap pemilu sudah menurun dari pemilu ke pemilu. Salah satu alasannya adalah partai sudah tidak mencerminkan pendapat dari konstituen. Voters sebagai principal, tidak dapat mengontrol apa yang dilakukan partai ataupun caleg yang berlaku sebagai agent. Salah satunya adalah pada maslah koalisi di parlemen. Koalisi sebagai salah satu strategi penguasaan parlemen mulai tidak melihat platform. Koalisi yang terbentuk dari beberapa partai di pusat pra pemilihan presiden juga sangat dinamis. Saat ini Partai sudah menomorduakan konstituen dalam pemilihan koalisis. Keputusan tersebut bisa berbahaya karena bisa jadi partai tidak sesuai keinginan pemilihnya maka pada pemilu ke depan akan bisa berpindah ke partai atau lebih lanjut lagi menjadi golput. Jika semua masyarakat golput maka legitimasi pemilu sebagai bentuk demokrasi akan melemah.

    Ketiga, social cost yang besar pada pemilu kali ini juga memberikan implikasi pada keberlanjutan demokrasi. Dari sisi SDM, contohnya terlihat dari Caleg yang stress karena gagal, bisa dianalisis bahwa bangsa Indonesia sendiri belum siap menghadapi sistem pemilu yang dengan jelas menyatakan siapa yang ”menang” dan siapa yang ”kalah” dalam demokrasi. Masalah muncul ketika yang tidak siap kalah akan menuntut legitimasi pemilu. Apalagi kasus yang terjadi pada tahun 2009 ini perhitungan sangat lama, tidak akurat  dan rawan konflik. Akibatnya adalah kelelahan masyarakat dalam berdemokrasi yang nantinya berefek pada keberlangsungan demokrasi ke depan.

    Usaha pencapaian pembangunan ekonomi yang menyejahterakan rakyat tidak dapat dilepaskan dari penciptaan sistem pemilu yang demokratis dan memiliki legitimasi kuat. Pelaksanaan pemilu 2009 telah memberikan kita banyak pelajaran. Bahwa sistem pemilu Indonesia harus segera dibenahi dan diperbaiki agar demokrasi tidak terancam masa depannya. Langkah pokok perbaikan sistem pemilu dilakukan dengan perbaikan kelembagaan dan sistem-sistem pendukungnya. Pemilu yang baik akan mendorong pembangunan ekonomi melalui penciptaan pemerintahan yang baik

    Pelaksanaan pemilu yang baik sesuai dengan kelembagaan akan mengurangi berbagai ketidakpastian. Dalam kerangka kelembagaan, berkurangnya ketidakpastian akan mengurangi biaya transaksi yang diciptakan. Dalam konsep pemerintahan, berbagai penyalahgunaan termasuk dalam biaya transaksi. Biaya transaksi yang kecil akan meningkatkan efisiensi, produktivitas, profitabilitas, dan kelanjutan dalam pemerintahan yang dibangun.

    Akhirnya, penulis dapat sedikit memberikan rekomendasi untuk perbaikan pemilu yang akan datang hingga demokrasi pun menemukan arah yang tepat. Arah yang mampu membawa pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan menyejahterakan rakyat. Pembenahan kelembagaan secara khusus aturan main, lembaga pelaksana pemilu (KPU) yang memiliki kapabilitas, dan tentu saja dua hal yang terpenting, memperbaiki moral dan menentukan arah demokrasi.

    Kata kunci: Pemilu, demokrasi, dampak ekonomi, kelembagaan

    :: Wah panjanggg ya -dan nggak jelas tentunya-  :P Masih ingatkah kalian akan kebingungan dan ide yang di persimpangan jalan? hehe. Sepertinya kita harus mulai belajar merumuskan ide dari sana setelah menjadi finalis Kompetisi Karya Tulis Ilmiah yang diadakan oleh IMEPI  Fakultas Ekonomi  Universitas Brawijaya pada oktober 2009 ini . Nulis lagi nyok ^^V ::

     
  • tigaputra 6:49 pm on November 11, 2010 Permalink | Reply  

    Rumah Bersalin Gratis: Optimalisasi Peran Ziswaf Meningkatkan Kualitas Kesehatan Ibu dan Anak Keluarga Miskin (Gakin) 

    oleh: Novat Pugo Sambodo, Ulfah Nurrahmani dan Cut Madinna Tiraya

    ===============

    Abstrak

    ===============

    Makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran lain peran zakat dalam memberikan bantuan kepada keluarga miskin di Indonesia dengan berfokus pada bidang kesehatan. Metode penulisan yang digunakan adalah kajian pustaka berupa buku bacaaan, jurnal dan berita serta bahan dari internet. Contoh peran penyaluran dana Ziswaf yang ditawarkan yaitu dalam membantu persalinan dan perawatan Ibu hamil yang akhirnya dapat meringankan beban bagi ibu hamil yang tidak mampu membiayai layanan kesehatan di rumah sakit. Rumah Bersalin Gratis dijadikan Objek sebagai bahan diskusi. Upaya Rumah Zakat Indonesia dalam memfokuskan diri pada pembangunan manusia Indonesia dari sisi kesehatan dan pendidikan bisa dijadikan role model bagi penyalur zakat untuk dapat lebih berperan dalam meringankan beban hidup keluarga miskin. Besar kemungkinannya keluarga miskin tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup dasar apalagi untuk merawat kesehatan diri dan keluarganya.

     

     

    Kata-kata kunci: Kemiskinan, Kesehatan, Rumah Bersalin Gratis, Ziswaf

     

    :: Tak dinyana tak dikira  paper ini masuk menjadi pemenang kedua  pada acara Lomba Karya Tulis Ilmiah ZISWAF FE Universitas Negeri Sebelas Maret September 2008.  Ul, Din, kapan-kapan nulis lagi ya. Sebagai anak TSC kita teteup harus produktip ^^V  pam-pam dan zen juga ya hehe ::  

     
  • tigaputra 6:40 pm on November 11, 2010 Permalink | Reply  

    Apakah Batik Bisa Menembus Tirai Bambu? Analisis Strategi Indonesia Menghadapi ACFTA Melalui Optimalisasi Industri Kreatif 


    oleh: Novat Pugo Sambodo, Dimas Imam Apriliawan dan Asyrop Qomaruddin

    =================

    Ringkasan

    ===================

    Diberlakukannya perdagangan bebas di antara 10 negara ASEAN dengan China atau ASEAN China Free Trade Area (ACFTA) mulai Januari 2010 menimbulkan keterkejutan dari semua kalangan bisnis di Indonesia. ACFTA menjadi bahan diskusi menarik dan orang mulai membicarakan ACFTA dari hotel dan ruang pertemuan hingga warung kopi meski hanya permukaan saja.  Padahal ACFTA sudah ditandatangani pada tahun 2004. Muncul kemudian berbagai seminar dan artikel koran yang membahas perjanjian tersebut bagai cendawan di musim penghujan. Apabila dipetakan dalam beberapa kelompok terkait opini masyarakat Indonesia terkait ACFTA, ada yang optimistis dan pesimistis. Bagi yang pesimistis menganggap ACFTA merupakan ancaman yang akan menimbulkan bencana yang makin  memperparah situasi kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan bangsa. Kekhawatiran serbuan produk China akan mematikan UMKM dalam negeri karena kalah bersaing karena produk China lebih unggul dalam melakukan efisiensi. Jika dibiarkan terus menerus barang China membanjiri pasa Indonesia maka nantinya akan ada banyak UMKM yang gulung tikar dan muaranya adalah banyak pengangguran. Ekonomi mengalami penurunan performa, sehingga akan kesulitan mencari kebutuhan pokok khususnya bagi rakyar kecil.

    Ekonomi integrasi dan kerjasama dapat mengambil berbagai bentuk dan  motif. Free Trade Area atau Kawasan Perdagagan Bebas adalah salah satu bentuk dari integrasi ekonomi tersebut. Free Trade Area sendiri bermakna “restriksi kwantitatif dan hambatan tariff antara negara anggota dihilangkan, tetapi setiap negara anggota masih mempertahankan taiffnya sendiri terhadap negara bukan anggota”. Persyaratan umum agar sebuah integrasi ekonomi berjalan Sukses: (1) Tahap pembangunan ekonomi antar negara anggota setara/sejajar; (2) Terdapat kebudayaan yang “mirip”; (3) Ada tingkat kongruensi politik yang tinggi dan ada kesamaan perhatian atas iklim politik;  (4) Kedekatan geografis; (5) Manfaat bersama kepada setiap negara dan kemungkinan sekali terjadi pengorbanan yang tidak bisa dihindarkan oleh negara anggota.  ACFTA yang merupakan bentuk dari Free Trade Area yang berlaku di kawasan ASEAN dan China.

    Tahun 2010 ini rakyat Indonesia mempersiapkan diri menghadap ACFTA dengan segala kemampuan setiap individu dan institusi. ACFTA akan membuat daerah ekonomi dengan 1,7 milyar konsumen, GDP total sebanyak 2 bilyun dollar dan total perdagangan 1,23 trilliun . Dan seperti FTA lain, ACFTA akan meningkatkan perdagangan ASEAN dengan China, sehingga laju peningkatan diharapkan akan naik setelah ACFTA diberlakukan. Industri kreatif Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan konsumen sebanyak 1,7 milyar tersebut.

    Industri Kreatif menempatkan kreativitas dan inovasi saat ini menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Untuk bidang kerajinan meliputi barang kerajinan yang terbuat dari batu berharga, aksesoris, pandai emas, perak, kayu, kaca, porselin, kain, marmer, kapur, dan besi. Industri kerajinan saat ini termasuk dalam 10 klaster industri unggulan di Indonesia berdasarkan pada Roadmap 2010 Industri Nasional. Industri ini saat ini merupakan penggerak penciptaan lapangan kerja dan kemiskinan.

    Makalah ini mencoba untuk mengupas peluang Indonesia dan strategi apa yang bisa digunakan untuk memanfaatkan momen ACFTA tersebut. Paper ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi literatur, dimulai dengan mengumpulkan data serta literatur yang ada kemudian mengintrepetasikannya dengan teori ekonomi.  Kesimpulan yang muncul adalah di satu sisi, apabila ACFTA tidak segera ditanggapi dengan positif hanya akan merugikan Indonesia. Tujuan dari Free Trade Area yang berusaha meningkatkan kegiatan perekonomian tidak akan terwujud jika salah satu anggotanya tidak melakukan peningkatan kegiatan ekonomi juga. Upaya untuk melakukan pembenahan berupa perlindungan HAKI dan standarisasi produk yang masuk ke Indonesia menjadi metode untuk menahan serangan produk-produk China. Untuk memanfaatkan perdagangan dengan China maka industri kreatif perlu untuk dapat selalu melakukan pembaruan kreasi hasil produk, inventarisasi budaya, mempermudah arus perdagangan dan perijinan dan perubahan orientasi pasar agar dapat memasuki pasar China.

    Kata Kunci: Free Trade Area, Industri Kreatif, China

    

    ::unexpected! dari 174 masih lolos menjadi bagian dari 15 besar pada Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KATULISTIWA) 2 tahun 2010. Ingatkah kalian teman? Masih ada jalan di tengah kesulitan kawan, mari terus berkarya, meski tembok tinggi menjulang menghadang ^^V menuju Jogja desember 2010 dan Kuala Lumpur maret 2010 ::

     
  • tigaputra 5:00 pm on November 11, 2010 Permalink | Reply  

    Peta Potensi Syariah Microinsurance di Indonesia dan Strategi Pengembangannya 

    Oleh: Novat Pugo Sambodo, Dimas Imam Apriliawan dan Imam Fauzi

    ==========

    Abstraksi

    ==========

    Salah satu cakupan falah adalah kesejahteraan yang berarti pula memiliki rasa nyaman dan aman. Jika membahas masalah tersebut maka industri asuransi akan mengemuka. Hal yang berbeda dengan benua eropa dan negara maju lainnya yang sudah sangat mengenal praktek asuransi dan penetrasi pasar yang mapan maka Indonesia masih harus berusaha menuju ke arah sana. Namun patut diingat Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk yang hidup di negara ini diperkirakan akan mencapai 243 juta orang pada tahun 2010 (234,7 juta pada tahun 2007), menurut The Economist Intelligence Unit. Pasar yang sungguh besar jika ditilik dari polpulasinya. Adanya potensi tentu adapula hambatan dan permasalahan. Contoh kasus pada asuransi syariah pada umumnya yaitu antara lain: (1) Masyarakat belum mengenal dan memahami asuransi syariah; (2) Takaful belum menjangkau masyarakat luas karena terbatasnya kantor cabang di kota-kota kecil; (3) Modal minimal hanya sebesar Rp3 Milyar  sehingga untuk sulit untuk berkembang pesat; (4) Kurang tersedianya SDM yang memahami konsep syariah. (Irianti, 2009)  Permasalahan keterjangkauan dan penetrasi pasar yang harus lebih fokus dan peta potensi pasar microinsurance inilah yang akan coba dibahas pada paper ini. Bagaimana agar perluasan asuransi syariah bisa lebih tepat sasaran dengan membidik di tengah pasar Indonesia yang sangat luas. Implikasinya sasaran pengedukasian masyarakat juga lebih terarah, sehingga pada pemasarannya lebih fokus dan efisien dalam penetrasinya kepada masyarakat khususnya pada masyarakat berpendapatan rendah. Selanjutnya bagaimanakah strategi yang tepat harus diaplikasikan dilaksanakan di Indonesia mengingat masyarakat Indonesia yang unique di setiap daerah dan komunitas? Dalam menganalisa masalah penulis mengunakan metode bersifat deskriptif kuantitatif. Kami mengasumsikan bahwa responden yang sudah mengikuti Arisan merupakan responden yang sudah adaptif dengan praktik microinsurance sehingga pada akhirnya menjadi pasar potensial untuk diperkenalkan dengan praktik Syariah Microinsurance. Kami menganalisis dengan menggunakan kecenderungan data  yang ada pada IFLS  3 tahun 2000 diolah dengan Software STATA 9 yang merupakan software statistik dan ekonometri yang secara khusus dapat mengolah data sekunder dari IFLS 3. Berdasarkan data IFLS 3 Provinsi yang sangat potensial untuk menjadi lahan potensial untuk perkembangan Syariah Microinsurance adalah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah yang lebih adaptif dan kesadaran akan asuransi lebih tinggi daripada 13 provinsi lain yang diteliti pada data tersebut. Dari data yang kami olah maka segmen yang cenderung lebih adaptif terhadap microinsurance yaitu antara lain: kelompok muda, secara gender tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan, tingkat pendidikan SMA ke atas, pendapatan menengah, berdasarkan sama lokasi tempat tinggal antara kota dan desa memiliki proporsi yang sama dan lebih banyak adalah orang yang sudah menikah.

    Keywords: Microinsurance, Syariah, Asuransi, Potensi Pasar

    photo: http://raenidj.blogspot.com/2007_11_01_archive.html

     
    • syarifuddin othman 9:42 am on March 22, 2011 Permalink | Reply

      Assalamu’alaikum Bapak,

      I’m very much interested in the study done and would greatly appreciate whether it is possible to obtain a copy of this study. My colleague would be in yogyakarta from 27th till 29th March 2011, whereas i would be in jakarta from 29th March till 1st april. If you are available we would like to meet up for chat over coffee.

      makasih Pak.

      • tigaputra 10:11 am on March 22, 2011 Permalink | Reply

        waalaykumussalam Mr Syarifuddin,

        Wow, It will be great if I can share with you. But, I still revise this paper due to the assumptions of this study are not appropriate one.
        we assume “willingness to join “arisan” ( a kind of microinsurance in Indonesia)” is similar with “willingness to join microinsurance”. I’ll contact you by email if the revised version done.

        regards,

        -Pugo-

        • syarifuddin othman 1:49 pm on March 22, 2011 Permalink

          Trimas bapak atas balasan nya>

          Are you based in yogja? if u are perhaps we could meet up for coffee> if u are in jakarta likewise willing to meet up> just to get to know and see whether there is opportunity for us to work together since we are much interested to operate syariah ansuransi with microinsurance as our core business.

          thank you and slamat siang pak>

        • tigaputra 11:29 pm on March 25, 2011 Permalink

          Yap, Yogyakarta is my current city, sir. Now I’m working as Research Asisstant in Center of Economics and Public Policy Studies in Gadjah Mada University. Anyway, you can send me an email for correspondence Pak Syarifuddin. The address is pugosambodo@yahoo.com, if you want to. Another option, you can add me on Facebook as a Friend :) FYI, Jogja and Jakarta are quite far, it is dificult for me to arrange my schedule in couple months to go there. Mmmm, I ll send you email if I ll go to jakarta, I have planned go to Jakarta on July. Are you still there at that month? :)

          regards,

          -Pugo-

  • tigaputra 4:44 pm on November 11, 2010 Permalink | Reply  

    Siapakah yang Meniup Gelembung?: Kajian Kritis Potensi Peran Sukuk Menimbulkan Bond Bubble di Indonesia 


    Abstraksi

    ****************************************************
    Dimas Imam Apriliawan, Muhammad Syarif Hidayatullah dan Novat Pugo Sambodo
    ****************************************************

    Studi mengenai potensi risiko krisis ekonomi di masa depan akan menjadi bahan diskusi penting. Hal itu dilatarbelakangi prospek dan perkembangan perekonomian global dan performa ekonomi Indonesia khususnya dalam pasar finansial. Ada dua krisis yang menjadi bahan pelajaran, Pertama, krisis moneter di Asia pada tahun 1997 menyisakan dampak luar biasa, Indonesia yang dianggap hanya “tertular” mengalami kesulitan yang lebih besar daripada negara yang menulari seperti Thailand. Kedua, krisis finansial global pada tahun 2007/2008 justru mengherankan karena pada saat negara lain di dunia sedang mengalami resesi, Indonesia tetap bertahan dengan dengan pertumbuhan yang positif.

    Pemerintah hingga saat ini berupaya melakukan upaya pembiayaan melalui defisit anggaran dengan mengajukan utang. Praktek selama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2004-2009 menunjukkan tren rasio utang dalam negeri dibandingkan utang luar negeri mengalami kenaikan. Hal itu diwujudkan dengan diterbitkannya berbagai instrument seperti ORI, SUN dan Sukuk. Instrumen yang disebutkan terakhir, atau biasa disebut Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) merupakan instrumen yang keberadaannya diatur oleh UU No 19/2008 dan Peraturan Pemerintah No 57/2008.

    Tulisan ini akan mencoba menganalisis apakah dengan diluncurkannya instrumen berupa sukuk tersebut jika diarahkan berlebihan akan menjadikan sebuah Gelembung Obligasi (Bond Bubble). Indikasi terjadinya Bond Bubble ketika adanya obligasi (bond) tidak sejalan dengan sektor riil. Selain itu, penggunaan instrumen utang dalam negeri dalam penutupan defisit anggaran akan membuat negara terjebak dalam jebakan hutang (Debt Trap). Paper ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi literatur, dimulai dengan mengumpulkan data serta literatur yang ada kemudian mengintrepetasikannya dengan teori ekonomi. Kesimpulan yang muncul adalah di satu sisi, apabila praktek sukuk sekarang dilanjutkan akan mengarah pada hal yang sama seperti obligasi konvensional. Namun di sisi yang lain, Sukuk memiliki keistimewaan karena lebih tidak terpengaruh akan bunga, memiliki underlying asset dan nantinya akan rendah pemasarannya di pasar sekunder. Inovasi yang lebih mengarah kepada visi Sukuk pada sektor riil perlu dirumuskan agar Gelembung Obligasi yang dikhawatirkan tidak meletus, yang akhirnya akan menimbulkan krisis ekonomi dalam bentuk yang lain.

    Keywords: Bond Bubble, Sukuk, Utang, Risiko Ekonomi, Krisis

    =================================================

    Biar saya agak keliatan mikir tentang ilmiah, dan bukan curhat semata di notes FB, maka saya repost tulisan abstrak paper saya and team (Dimex dan Syarif) hehe. Moga bisa jadi bahan diskusi yang menarik buat yang mau nulis skripsi tentang sukuk, mohon diberikan kritik biar kami tercerahkan (sebenarnya saya butuh ide nih buat nulis tentang sukuk lagi ^^V). jika ada pertanyaan akan saya tampung dulu (nyari jawaban, biar nggak keliatan ndak taunya :P ) Oh iya jika ada yang butuh paper terkait sukuk tolong hubungi saya, punya sedikit sih, cuman mungkin bisa membantu atau melengkapi yang ente punya. Oh iya jika ada yang punya artikel tentang: (1) Islam dan Upaya Pelestarian Lingkungan (2) Teori Zakat Infak Shadaqah dan Wakaf (ZISWAF) boleh tuh di-share ^^.

    Lets Fight for Islamic Economics!

     

    photo: http://www.whocrashedtheeconomy.com/2002-10-02%20Oct%20Howard%20Costello%20bubble%20economy%20530.jpg

     

     

     

     
  • tigaputra 4:36 pm on November 11, 2010 Permalink | Reply  

    Saatnya Menoleh ke Timur: Bukti Stimulus Fiskal Bukanlah Obat Generik 

    ==============================================
    ABSTRAKSI
    oleh:
    Marcella Chandra Wijayanti dan Novat Pugo Sambodo
    ==============================================

    Tahun 2009 adalah tahun terberat dan puncak krisis ekonomi di dunia. Sejumlah negara mengamankan perekonomiannya dengan menyuntikkan stimulus fiskal ke dalam perekonomian masing-masing termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia menyediakan dana stimulus sebesar Rp71,3 T yang difokuskan untuk pengurangan beban pajak, belanja infrastruktur dan perluasan bantuan PNPM mandiri, BOS, BLT dan bantuan untuk UMKM. Secara teori stimulus fiskal menjadi sempurna jika dapat memenuhi lima prinsip dasar. Pertama, memenuhi prinsip keadilan. Kedua, prinsip berorientasi ke depan. Ketiga, prinsip keterbukaan. Keempat, prinsip efektivitas. Kelima, prinsip pemerataan. Artinya kebijakan stimulus fiskal dapat memberi kesempatan yang sama untuk diterima semua komponen masyarakat. Stimulus diprioritaskan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, menengah, (UMKM) dan usaha perkoperasian.

    Permasalahan yang muncul yaitu di Indonesia sebagai negara kepualaun yang luas memiliki daerah dengan tingkat kemajuan ekonomi yang berbeda, budaya, dan demografi. Perbedaan-perbedaan ini memunculkan kebutuhan pengamanan terhadap krisis dalam bentuk implementasi stimulus fiskal yang berbeda pula. Di sisi lain, undang-undang yang ditetapkan tidak memungkinkan terjadi pembedaan perlakuan penerapan kebijakan stimulus di berbagai daerah. Makalah ini mencoba menguraikan masalah tersebut menggunakan metode analisis kualitatif dan data-data sekunder.

    Berdasarkan evaluasi Bappenas, sampai pertengahan tahun penyerapan stimulus fiskal hanya mencapai 20 persen, ini memperjelas bahwa desain stimulus fiskal 2009 tidak sempurna. Lebih mikro lagi, berdasarkan pengamatan penulis selama melakukan program KKN di daerah Papua Barat, banyak terjadi moral hazard dalam penggunaan dana stimulus karena dibayangi sanksi pemerintah kepada kementerian/lembaga (K/L) dan daerah yang tidak bisa menyerap penuh dana stimulus khususnya untuk infrastruktur sebesar Rp12,2 triliun pada 2009. Program dalam bentuk infrastruktur justru tidak terlihat di Sorong Selatan padahal daerah tersebut memilki infrastruktur yang buruk padahal infrastruktur sangat mempengaruhi kekuatan ekonomi daerah. Di dukung oleh penelitian Hasil penelitian Pangabean, (2008) membuktikan bahwa ternyata untuk Kawasan Timur Indonesia peningkatan investasi di sektor infrastruktur ternyata akan meningkatkan pertumbuhan output nonpertanian sebesar 0.08610 persen dan pertumbuhan output pertanian sebesar 0.176199 persen. Namun yang terlihat, stimulus berupa pembangunan infrastruktur belum terlihat nyata di Kawasan Timur Indonesia, justru stimulus untuk infrastruktur banyak dihabiskan untuk pembangunan properti di ibukota.

    Kesimpulan makalah ini yaitu desain yang seragam untuk semua daerah justru membuat stimulus fiskal tidak efektif mengingat daerah-daerah di Indonesia terjadi perbedaan karakteristik ekonomi, sosial, dan demografi. Kawasan Timur Indonesia memerlukan stimulus fiskal yang fokus pada perbaikan infrastruktur bukan pengurangan pajak maupun perluasan bantuan PNPM mandiri karena banyak daerah di KTI yang belum terhubung dengan baik dengan daerah lain. Bagi KTI Program perluasan PNPM mandiri, KUR ataupun PUAP tidak akan maksimal sebelum infrastruktur dibenahi.

    Keywords: Stimulus Fiskal, KTI, Kebijakan, Krisis Keuangan Global

    *****************************************************

    Karya tulis ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan oleh Himpunan Profesi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Presentasi disampaikan pada Final Hipotex-R IPB Bogor, Selasa 13 Oktober 2009. Karya tulis ini sedikit banyak diilhami perjalanan kami selama melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM dan melihat bagaimana banyaknya informal rule dan kesenjangan antara teori ekonomi dengan praktek di lapangan. Sungguh suatu anugerah kami berkesempatan untuk melihat Indonesia secara lebih luas, sehingga bisa menjadi lebih bijak dan arif sebagai calon ekonom masa depan.Sebenarnya kami merasa masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam makalah ini. Jika ada kritikan tolong dengan sangat untuk disampaikan
    ^^

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.